Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

Judul-judul Palsu

Gambar
yah kata ini benar sebagai penerang kaum terpapar di negeri tiran terlihat samar bohong jadi benar walau publik bicara salah tak ada lagi batas di tumpu bisik bisik hujan membabi buta pada jelata tidak hanya satu beribu kata bohng berisi regu ampun lugas tak guna daya sampai batas pohon ku padamu tuhan maha satu yang segala tahu di balik judul judul palsu

Tak Lagi Gagah

Gambar
dia terluka tak bergeming atau mati rasa di panca indra saat saudara muka, bicara asia murka bermuka dua tiada peduli saat garuda pincang sang gaza gagah pasang badan tak kurung jemu jua apa harus ke negri fantasi menunggu legolas tranduil melangkah walau secuil bukan kalah jadi abu namun kalah tetap menggebu ghirah ini takan mati walau dunia menghampiri menanti dikau

Layang-layang Ilalang

Gambar
telah datang saat al aqsa menjulang di genggam israel malang rakyat terkekang siap menjelang malam tak gelap pesona ketika dunia hangus nan buta oleh kejam hiruk media dihantam keras berat berbeda besi melawan tanah walau kami terjarah tak ada kata menyerah untuk para bedebah kami satu menggugah memang tanpa belati apalagi senjata api musuh seragam lengkap dan uzi tak ada takut intifada banjiri serdadu hina, keji

Sepatu Payung

Gambar
aku mendayung berserakan laras kentara saat amatahari datang nirwana dia terpana jua di terima kirim peci hitam ke markas agar tak ada lagi kata sirna kedengkian tak percaya iri berbolak balik hati bahtera i kapital tak lagi nyata bah dikau abah ampun ku merantau hanyut jamrud sampai larut jalan di atas tema ku malu sementara semena mena tiran tiran kuda kirana

Ulang Tahun Atau Dekat Mati

Gambar
setiap masa dia menunggu saat jam berdetak menabrak waktu atau tahun termangu duduk menggebu dibingkai hari detik berlagu saat itu israil menuju aku jadwal ini tertulis takdir menanti santapan serba ngeri di alam peri atau berseri inidah pada bidadari aku telah tertanda gunung dosa ku kala khusnul khatimah harap bicara saat datang pencabut nyawa hanya mengadu pada siapa dunia fana fatamorgana gumpalan noda terus menumpuk tak ada lega terus berjumpa bayang pribada kejam tersiksa bodohnya luka tak kira moga tautan lahir atau umur berakhir

Ladang Amal

Gambar
apa pula ku mengambil pasal dingin meredang kucampur layar tertulis lisan terbungkus indah dulu lauf al mahfuz takdir menepi rasul terutus mencari ilmu dengan keringat walau empat tahun  emak teringat sampai di negeri beban memberat ekonomi susah hidup menyayat akhirnya semua minggat pendidikan terhambat adalah pak somad di tinggikan derajad walau belum seabad indah merangkul semua mahzab khilafiyah adalah kekayaan khazanah takjub tidak hanya sekejap sekaya hati seluas dada mengayun pagi di lepas jaga tak ada lagi bisa kupungkiri beribu hikmat ku hampar raya di tanah melayu di negeri sumatra

Mutiara di Tempat Sampah

Gambar
pada suatu ketika di pegunungan alaska tak ada mahluk menerka menguji sebuah lirik etika antara barak-barak kotor mereka silau terangi gelap saat butir butir hamba terlelap puing-puing kacau gemerlap walau mendayu titik sekejap rasa syukur pada sekte ini ku tetap mutiara itu duduk istiqomah lalu berdiri tegak nan megah dengan penuh ilmu yang kokoh lantang menyeruak gagah tanpa sedikitpun terengah walau banyak kritik ditengah intrik dan polemik semua musuh berbisik tak ada satupun ketakutan dalam penyampaian ayat-ayat ilahi sirami negeri

Hitam Dibalik Putih, Putih Dibalik Hitam

Gambar
tak satupun tahu yang terjadi di bawah perahu pesona menjadi abu kelam kelabu tak ada biru yang biru hanya kawat belenggu teks asli cek palsu menanti haru antara pisau baru o propaganda dunia fana terkesima dengan kuasa tak ada akhir untuk sebuah tikai menanti di rumah anak istri tak ada lagi hidangan hanya kue granat yang bisa di makan di balik kebohongan lagi dosa manusia bendera dari tanah negeri mengharap adil di pihak mortir serdadu kupu-kupu meledak di bahu hati tqak ada lagi yang dinanti entah siapa lagi ungkap arti kuldesak

Dari Omaha

Gambar
kabut tebal hiasai Normandy di jajah bagai asa mati kala ribuan infantri lari berdiri di kejamnya tirani saling hujam tiada henti penguasa lalim siapa gerangan bagai burung ababil bawa batu api dari negara hancurkan negeri tiada belas kasih semua menanti semua agama berdoa sendiri kekejaman tiada henti dari manusia ciptaan ilahi saling serang tanpa peluru tak berisi kadang dunia menangis melihat potongan tangan berjejer darah mengalir menanti medis yang menyambut telat terlambat setop kebodohan manusia saling bersinggungan demi apa kau diciptakan? bukan untuk mengambil nyawa

Kambing Hitam

Gambar
hahaha aku tak suka jika adanya karna fisik sedikit pelik tak ada bulu untuk menutupi segala kemungkinan dari alibi sampai ekor tersangka perbuatan kotor dua titik koma segala salah dia pelakunya padahal dia makan rumput di belantara tak ada yang suka aku pun jua ah terlena aku harus bagaimana kumasukan dia ke kandang entah menyelamatkan atau ku beri dia belenggu kambing hitam ku yang lugu

Sulam Selam Lelah

Gambar
bisiku telah fisiku musnah kala sang bintah terengah menuju suara dia entah hentak menghentak ototnya pernah tekanan darah ini menggonggong berbalut sempit di nadi lorong ingin rasa hamba potong biar terurai dan ku kau gotong dor dor dor lelah aku tertembak lelah aku banyak celah keluar banyak darah mungkin ini saat berbenah agar misi tak goyah bedebah bumiku beruntung tak tergayung menuai mendung lekung cembung ku nimbrung

Tersayat Perahu

Gambar
apa telah terbakar yang menjadi bangkai terkoyak keluar sebuah armada penuh senyum melipat misil tiada henti haru ditelan samudra di sisi lain serdadu serdadu stalin takut masa lalu begitu gilanya napoleon atau ambisi Hitler Nazi menuju pemakaman di Moskow karena kehendak tuhan mereka berhenti bertahan mati oleh alam minus 40 derajat buat beribu tentara sekarat akankah terjadi lagi kucuran darah yang sia sia meluluh lantahkan indahnya hutan birunya awan menjadi hitam karena dosa manusia tak terkira semua berhenti kala kapal masuk di angkara badai bentuk kumbara diam semua

Lapar

Gambar
lunglai terkapar seorang bocah tanpa sadar bicara di ufuk fajar hampir punah lelah terkejar antara bisik buih terpencar seuntai semangat mencari suap sampai kota asing terhinggap pada metropolitan sanggar keacuhan\ luluh lantak keadilan lantas siapa pasang badan karna sebait mantra di pemilihan tak ada yang peduli walau ayat tuhan mematri hanya melihat pada puisi saat arogan mulai menyanyi atas panggung politik, nuansa keji ah tanpa lihat mata berduri kupukul pagar bawah redam gantung mengantung pasung busung tidak murka bukti sampai di silang hubung mungkin mati

Telah Habis

Gambar
tak tersisa di fana di nyata dimana dinding kata dinar makna bak mata uang hilang cepat melayang hingga menjelang seling selang tak lagi datang tak tersisa punah siapa yang salah aku melangkah pada antah berantah datang terjajah ku baca rajah sampai ku lelah apa yang tak tersisa di hidup ini kala ku mati baru kusadari? waktu masa

Tanpa Judul

Gambar
aku masih bingung dengan suara ini dengung yang selalu mengaung walau ku merenung hingga tak terhitung tak terbendung walau tanpa judul ini belum jadul tak habis ku bergaul hingga hafal betul sesuatu peka termuncul masih tak mengerti tentang intuisi sejenak bermucikari terpeleset tiada henti bising petang hari apakah kenang dibanding kanti jadwal hantam kapal di kasat jauh kawal alun alun terpental tanpa rasa sesal karna ku terkenal hela ku menghayal mati malu di kanal

Menunggang Pelangi

Gambar
lebih hebat dari prabu siliwangi meggoyah kan seisi bumi dengan singkat isi taifun beribu badai getarkan buih dengan ngeri bahkan lebih agung daripada alexandros dengan mudah kuasai barbados tak ada musuh yang bisa lolos walau secepat los pakualamos ber rap ria dengan adu jotos mereka agung taklukan negeri menjadi iri menjadi sunyi dalam indahan terpuji membebaskan dengan indah berupaya memegah hancurkan tirani bedebah lindungi hati merendah walau bermati lelah lalu siapakah dia banyak mereka diantara melepas rindu dengan tuhan-nya yang maha bijaksana berjalan di posisi paling diingini oleh penduduk dunia ini dia sedang bersama bidadari

Archangel

Gambar
demi allah kusalurkan penglihatan di dalam kediaman saat suasana sepanas sauna remang kehimpitan nirwana bukan vahalla diantara samudra kucari stitis fakta gemercik di alir memata di ngerinya sangkakala ku buka intrik menelisik di sebuah tugu obelisk hancur terkubur terik hingga alam ikut bergidik samangat ini terlalu membuncah sampai pusara bicara luluh lantah merekah membunuh setan bedebah tak ada seorang bisa mencegah buai buai kuatku megah sampai kini siapkan serdadu kumpulkan jendral masuk melaju tanpa takut duduk menyerbu dengan pena mengharu biru dengan ini ku menang menyeru

seperti

Gambar
seperti angin, gila menjambak seperti angin, marah menerpa seperti angin, normal berjalan seperti angin, hanya mengintai badai ku tertawa tanpa banyak durhaka menerka jenaka ini tersiapa cepat menjelma saiko saiko saiko apakah aku memang gila pesikopat pembuat kata mungkin bisa di pastikan pasti atau kehadiran di ruang jari dashasbdajsh sadhubasdahjus oahusbdakus obsesi diri kan? atau ambisi mati kah kah kah? tak jelas terlalu bias selalu malas tertindas lunglai memelas

Gila-gila

Gambar
gila gila gula gula semua kaku bak serigala kalayak batu berhala memikirkan segala berputar cepat bianglala apa aku harus mengampun pada biasnya diri ku terjun di rebahan payung yang kalang kabut menutrisi diri semakin kusut lalala lilili siapa disana bantu aku  bangun dari bekunya panas hantar menghalilintar sambar hantar duar!!!! lokasi posisi dari  pilihan sejuk berduri menggoyang terbit menari berbisik lantik mencari daun bunga layu harum lari hari-hari

Menumpuk Noda

Gambar
kenapa bisa menghitam semua yang kulakukan berujung tempat jahanam tolong hapuskan langit langit kuasa alam gamang kini mata air mata rebas sampai gumam aku racau di hilang yang makin kacau memesona antara lampau terlalu hanya diam mengigau apa dosaku yang makin berandang jelas di permukaan terpampang lasak tak pernah redam karena bunyi kukira calak ambau aku menyerahkah aku pada sebuah takdir yang begitu rancu bukan hanya karna kelam mengacu matiku terburu terburu-buru ampun kan daku awan tak lagi putih air tak lagi jernih semua pun teralih hilang asa ku tertatih tak ada tempat memilih                     harap mu kasih

Distorsi Mimpi

Gambar
delusi ini menjadi jadi di angan ngeri takutku hancurkan negri yang telah mati berubah mati pilih tautan lingkar sampai jumpa ke dalam sangkar aku merenung terbakar pada sebuah dalamnya akar ikat aku tak bisa keluar di dalam reportase ini semua terhenti hanya delima di bahasa pelangi yang terlupa mencapai sunyi antara titik koma ku pagi entri itu semakin biru karna halusinasiku di hamparan banyak mimpimu sendu terkekang malu

Persembahan Dari Syurga

Gambar
kau lah setitik sebutir cahaya sehias dalam bias mereka yang menerka diantara savana kala di jalan aspal kau menari sehitam blackhole yang melubang di gambut luas mencari laras hanya petunjuk yang mula kuldesak diantara badai nirwana alangkah semenjak mencari kudiamkan di bukit sunyi lantas siapa lagi menolong di lampias tersembunyi hanya persembahanya bisikin indah tiada lara ataupun jua di basuh fana hilir di hilir kesendirian dia ada tanpa bukti di sendi mati kumpul zat teori anti materi dinding lagi syurga ilahi bentang lagi energi ilahi

Peluit Pagi

Gambar
aku memulai di pagi sebuah suara lirih berderai lagi menampik di pesisir awan pelangi menjulang menjual dengan harga tertinggi kirim ku kirim sebuah pena diantara kakak beradik yang terlalu lara mengais lapar di daratan gaza sampai jauh muka kulempar batu di sebrang maya kerlip hijau satu dua tiga ku baca doa diantara kaca membentang indah bergejolak menolak menolak menolak ku hanya berteriak mungkin mandiri tak ku pungkiri ku takut berdua lakukan harakiri karna sebias belangga beriak beruaraikan mata mata sampai kulupa basah di kelopak mata menjadi liar hendak menusuk hendak bercerai dingin merasuk