Peluit Pagi

aku memulai di pagi
sebuah suara lirih berderai lagi
menampik di pesisir awan pelangi
menjulang menjual dengan harga tertinggi

kirim ku kirim sebuah pena
diantara kakak beradik yang terlalu lara
mengais lapar di daratan gaza
sampai jauh muka kulempar batu di sebrang maya

kerlip hijau satu dua tiga
ku baca doa diantara kaca
membentang indah bergejolak
menolak menolak menolak
ku hanya berteriak

mungkin mandiri tak ku pungkiri
ku takut berdua lakukan harakiri
karna sebias belangga
beriak beruaraikan mata mata


sampai kulupa basah di kelopak mata
menjadi liar hendak menusuk
hendak bercerai dingin merasuk

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ladang Amal

Layang-layang Ilalang

Sepatu Payung